Kala Vakansi (Menceritakan Liburan Sekolah)

 


Setelah mengalahkan seminggu yang terasa ‘berat’ sebagai pelajar alias masa ujian, hari-hari classmeeting dan remedial menanti, ini menandakan tak lama lagi aku akan memasuki fase yang pasti ditunggu-tunggu, tentunya liburan semester! Awalnya aku khawatir liburanku akan terasa bosan dan lebih banyak menyia-nyiakan waktu seperti tahun kemarin, hingga akhirnya aku merencanakan tantangan “goal-getter holiday”, apakah tantanganku ini berhasil?


Minggu, 22 Desember 2024

Mentari begitu cerah pagi itu, seakan-akan turut menyambut hari tenangku. Tak ada angin tak ada hujan, ayah mengajakku ke Padalarang, Bandung. Panorama perbukitan di sepanjang jalan berhasil menyihir pandangan, situasi jalanan yang riuh namun lancar menjadi tambahannya. Aku dan keluargaku sampai di kota baru parahyangan pukul 11 lebih 25 menit. Itu kali kedua kami berkunjung kesana. Selagi menunggu urusan pekerjaan ayahku selesai, kami menunggu di raffel's sandwich. Aku memesan satu great american sandwich ditemani dengan lemon tea tentunya. 



Sedangkan ibuku memesan zuppa soup yang terlihat sangat menggiurkan. 



Perjalanan kami beralih mengelilingi kota baru parahyangan, melewati stasiun kereta api, hotel mason pine, dan masih banyak lainnya. Masjid Al-Irsyad menjadi tujuan selanjutnya untuk melaksanakan shalat ashar. Sembari menunggu adzan maghrib, kami memutuskan makan malam di sebuah kafe yang unik. Selangkah memasuki cafe tersebut bak disambut suasana lembut, menilik kanan kiri penuh dengan warna merah muda sungguh memanjakan mataku. 


Diambil dari pertama kalinya aku kesini
Diambil dari pertama kalinya aku kesini

Di balik dinding bernuansa anggun, kafe nan estetik minimalis menunggu disana. Memang bertolak belakang, namun tak ada yang saling tumpang tindih. Akhirnya kami memilih kursi dengan nuansa yang kedua, estetik minimalis. Latar dengan desain ini sangat tepat untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Kedua mataku seolah-olah menyorotkan sinar ketika melihat tenderloin steak di buku menu, momentumnya tepat sekali karena aku sangat ingin menyantap steak saat itu. Kali ini, aku memilih matcha untuk melegakan rasa dahaga.




Tak terasa waktu telah memerintah pulang, bulan datang mengisyaratkan mentari untuk menghilang. Kilauan bintang dan cahaya kota menjadi tokoh utama malam ini, sunyi yang syahdu hanya menyisakan suara laju mobil, sementara kantuk terus menguasai tubuhku. Teringat esok adalah hari yang sangat kutunggu, aku memutuskan untuk membenamkan diri dalam lelap.


23-25 Desember 2024 (LDKS)

Semburat jingga melukis indah di birunya cakrawala, kicauan burung bersahut-sahutan, hiruk pikuk bermulanya hari Sebagian manusia, dipenuhi orang-orang yang bekerja keras kala separuh lainnya masih terpejam di atas tilam, senyap namun kelam kabut. Pagi itu, aku mengamati eloknya Mentari yang berhasil menggelorakan semangat meski kantuk terus menghantuiku dan sejuk terus menusuk. 



Aku sampai di tempat tujuan, antusiasme menggebu-gebu tergambar di rona semua temanku untuk mengikuti rangkaian acara yang mereka tunggu, Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) sebagai bekal untuk kami menjadi anggota pengurus IPH nantinya. Hari pertama, seluruh pertanyaan yang memutar di kepalaku terjawab, aku pun mendapat banyak sekali pembelajaran baru. Meski seharian menerima materi, bosan tak sempat mengerumuni. Momen yang tidak akan pernah terlupakan hari itu adalah bagaimana menegangkannya ketika tiba-tiba terjadi suatu masalah yang membuat seluruh panitia naik pitam, gusar memenuhi ruangan, bimbang menyelimuti suasana. Perasaan ingin membantu bergejolak tapi bertabrakan dengan pikiran yang terus mencari jalan keluar. Di Tengah puncak perasaan yang campur aduk, ternyata itu semua hanya perdaya yang sengaja dibuat oleh panitia untuk melihat sejauh mana kami semua dapat memecahkan masalah. Suasana yang awalnya mencekam berubah menjadi perasaan lega namun penuh air mata. 



Keesokan harinya pun tak kalah seru, pelatihan PPB yang membuat kakiku setengah tak berdaya, bermain tebak nama dan tebak kata, apalagi saat bagian permainan “mencari jejak”. 



Ada 4 pos yang harus ditemukan, tapi karena waktu yang cukup singkat, timku hanya menemukan 2 pos. Pos pertama terdapat beberapa pertanyaan yang harus dijawab mengenai pengetahuan umum. Di pos kedua, kami bermain games menaruh satu bola yang diangkat menggunakan beberapa tali ke atas botol, permainan ini memerlukan kerja sama yang kuat. Meskipun pada awalnya kesulitan tetapi dengan kesabaran, kerjasama dan taktik cerdik menghantarkan kami menuju keberhasilan. 



Di hari terakhir menurutku adalah “gong”nya, Selain itu, kami kedatangan tamu alumni al-hadiid yang kini sedang melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi, dari materi keorganisasian hingga realita dunia perkuliahan disampaikan oleh mereka. Lalu kami juga memasak untuk makan siang. Yap memasak, timku mendapat masakan pepes ikan dan sayur toge, ini pertama kalinya bagiku memasak pepes ikan secara langsung tanpa bantuan ibuku. Berbekal kerja sama dengan tim, arahan dari guru pembimbing dan sedikit pengalamanku, kami berhasil membuat masakan yang lezat, bahkan aku yang pada awalnya kurang suka dengan pepes ikan, menemukan letak lezatnya makanan itu (mungkin faktor lapar juga). 

Setelah shalat dzuhur dan istirahat, sampailah kami di bagian acara sharing session, kami banyak bercerita kepada guru pembimbing tentang hari-hari LDKS yang telah dilewati dan berbagai “random talks” lainnya. Selagi kami berbincang, rintik hujan mulai turun yang akhirnya menjadi lebat, kami merapat di tengah lapangan dan bermain hujan bersama, tawa riang mengisi setiap penjuru lapangan. Kami membuat lingkaran, saling berpegang erat lalu berputar-putar ketika air dari langit terus berjatuhan menghantam tanah. Itu menjadi salah satu momen di sekolah menengah yang sangat berharga dan tak akan pernah aku lupakan mungkin sepanjang hidupku. Berada di penghujung acara LDKS aku berpikir pasti akan merindukan momen ini. Dari sinilah aku mulai berkenalan dengan banyak teman yang super seru, bekerja sama  dan mengetahui seberapa kuat tekad mereka untuk sampai di detik itu. 



Liburan Selama di Rumah

Hari demi hari berlalu, waktu terus berjalan begitu cepat. Setelah melewati masa LDKS, aku lebih banyak beraktivitas di rumah, memanfaatkan kesempatan di setiap detiknya bersama dengan keluarga. Itulah saatnya aku beraksi untuk “goal getter holiday” yang bertujuan agar liburanku menjadi lebih produktif dan seru meskipun di rumah saja.

Bunyi alarm membuatku tersadar dari bunga tidur, aku bergegas untuk melaksanakan shalat shubuh dan merapihkan kamar. Matahari yang terkadang malu-malu menampakkan diri, udara yang masih sejuk, dan segerombol orang-orang senam diiringi lagu yang membakar semangat mereka menjadi panorama biasa ketika aku dan ibuku jalan pagi, tak lupa juga kami memburu makanan di beberapa gerai, jalan pagi menjadi kebiasaan baruku semasa liburan. 



Setelah itu, aku membuat to do list apa saja yang akan dilakukan hari ini. Memasak menjadi hobi yang tiba-tiba muncul dalam diriku. Setiap hari aku memasak sesuatu sebagai menu sarapan atau makan siang hingga cemilan, terlebih hidangan penutup, seperti cookies, pancake, brownies, dan lain-lain. Setelah melewati beribu kegagalan membuat shouffle pancake, hingga liburan berakhir pun aku belum dapat menghasilkan yang sesuai dengan ekspektasi, sebetulnya sampai sekarang ini aku penasaran dimana letak kesalahannya. Sebagian besar menu yang kubuat terinsipirasi dari fyp yang lewat di beranda. Egg tomato adalah salah satu menu sarapan favoritku selama liburan, perpaduan telur dengan buah tomat yang segar terasa sangat serasi.

Di sela-sela waktu luang, aku membaca buku atau menonton film dan variety show. Aku lebih banyak membaca buku dari iPusnas, sebuah aplikasi perpustakaan online yang dipersembahkan oleh Perpustakaan Nasional Indonesia. Aku tersadar, tidak ada alasan lagi untuk malas membaca. Kendatipun harus menunggu antri peminjaman beberapa buku, aku menemukan hidden game disana yang tak perlu berlama-lama menunggu giliran pinjam. Beberapa novel yang kubaca pun tak jauh dari genre fiksi, misteri dan thriller, seperti Murder In the Crooked House, Malice, Nevermoor : The Trials Of Morrigan Crow, dan lain-lainnya. The Things You Can See When You Slow merupakan buku terakhir yang kubaca pada tahun 2024, karena aku menyelesaikannya di tanggal 31 Desember tepat pada pukul 11.30 malam.



Jika telah jenuh membaca buku, aku akan mengalihkannya dengan menonton film atau drama korea. Terkadang pula, aku bersama ibu dan kedua adikku menonton film horror, ketika itu senyap memenuhi seisi rumah menyisakan suara dari televisi, tanganku tak henti-henti mengambil camilan yang telah kubuat, hanya seru terkejut yang dapat memecahkan sunyi.

Di malam harinya, waktuku digunakan untuk bermain bersama adik atau mengajari mereka, biasanya adik keduaku meminta dibacakan dan bermain dengan buku favoritnya.



Kedua buku itu dapat memunculkan gambar 3d lewat ponsel, menurutku sebab itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa dia menyukainya.

Begitulah aktivitasku selama liburan di samping membantu pekerjaan rumah dan melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim. Kalau ditanya “Tantangan goal getter holidaynya berhasil ngga?”, sebetulnya tidak 100%, karena masih ada saja waktu yang terbuang sia-sia dan tak sedikit daftar buku yang belum selesai dibaca. Tetapi aku sangat puas dan menyukai liburan kemarin. Bagaimana serunya menonton film bersama di rumah, berbincang tentang rencana di masa yang akan datang, dan menghabiskan waktu untuk bermain bersama kedua adikku akan selalu melekat dalam memori. Meski tidak penuh dengan perjalanan jauh, momen berkumpul bersama keluarga di rumah akan selalu menjadi kenangan hangat dan takkan pernah kulupakan, apalagi seiring bertambahnya usia, urusan diri sendiri pun semakin banyak. Maka dari itu, aku sangat bersyukur dapat menikmati berjalannya waktu penuh kebersamaan dengan keluarga.   


Posting Komentar

0 Komentar